GriyaTekno Blog

Blogs for Latest Building Technology
Saat ini penggunaan alarm system tidak hanya untuk gedung / bangunan komersial, tetapi telah digunakan secara meluas untuk bangunan residensial. Alarm rumah digunakan untuk melindungi penghuni sekaligus harta benda yang terdapat di dalamnya. Sebagai sebuah security system, alarm digunakan untuk memberikan alert / peringatan akan adanya potensial bahaya umumnya berupa peringatan adanya intruder (orang yang memasuki suatu properti tanpa seijin pemiliknya).

Sebuah alarm system yang lengkap terdiri dari beberapa bagian:

  • Main Panel: pengendali utama yang merupakan otak dari sebuah alarm system
  • Keypad: alat yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan alarm system
  • Sensor: alat yang digunakan untuk mendeteksi intruder
  • Audio Visual Alert: alat yang digunakan memberikan alert adanya intruder secara lokal menggunakan suara (siren) / cahaya (strobe).
  • Remote Alert: alat yang digunakan memberikan alert adanya intruder kepada remote user melalui telpon, sms, email

Sistem komunikasi antara bagian – bagian diatas akan membedakan alarm system menjadi 2 kelompok besar:

  • Hard-wired system: menggunakan kabel untuk mengirimkan signal antara bagian. Hard-wired system ini umumnya lebih stabil akan tetapi memerlukan biaya untuk proses instalasi infrastruktur (kabel) yang lebih besar.
  • Wireless system: menggunakan radio frekuensi untuk mengirimkan signal antara bagian. Wireless system ini lebih mudah untuk dipasang, sehingga lebih cocok untuk retrofitting (melengkapi bangunan yang sudah jadi). Akan tetapi harga wireless module umumnya lebih mahal dan memerlukan proses maintenance yang lebih rumit. Disamping itu kestabilan signal wireless sangat rentan terhadap interferensi dari signal wireless lainnya.

Dalam memilih sebuah alarm system hal yang terpenting yang perlu dipertimbangkan adalah sensor yang digunakan. Sensor ini sangat erat kaitannya dengan seberapa banyak kebutuhan pengamanan pada suatu gedung atau rumah. Kebutuhan pengamanan ini dapat ditentukan setelah memahami bagian mana saja yang perlu untuk dilindungi. Secara umum terdapat tiga tingkatan area / bagian bangunan yang perlu dilindungi:

  • Site Perimeter: Area yang langsung berbatasan dengan ruang publik. Jenis sensor yang umumnya digunakan pada area ini adalah Photo Beam dan Magnetic Contact
  • Building Perimeter: Perbatasan antara indoor dan outdoor area. Pada area ini bagian yang umumnya dilindungi adalah bukaan seperti pintu dan jendela. Sensor yang digunakan pada area ini adalah Magnetic Contact, Motion Sensor, dan juga Photo Beam
  • Indoor Area: area bagian dalam gedung / rumah. Sensor yang umumnya digunakan pada area ini adalah Magnetic Contact dan Motion Sensor.

Sebuah alarm system yang memenuhi standar keamanan tidak harus menggunakan semua jenis sensor yang ada, tetapi setidaknya memiliki semua bagian yang disebut diatas: panel, keypad, sensor, audio/video alert, dan remote alert. Panel dan keypad sebaiknya terpisah karena memiliki fungsi yang berbeda. Keypad harus dipasang di tempat yang terlindung tetapi mudah dijangkau, dan panel ditempatkan di tempat yang terlindung dan efesien untuk pengkabelan. Di samping memiliki semua bagian ini, sebuah alarm system yang baik juga harus memiliki sumber listrik cadangan yang terintegrasi terutama untuk panel dan audio/video alert. Sumber listrik cadangan ini sangat krusial agar dapat memberikan perlindungan optimum, tanpa adanya sumber listrik cadangan ini alarm tidak dapat memberikan proteksi bila sumber listrik utama dipadamkan.

Evolusi teknologi network saat ini telah mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Akibatnya, teknologi network juga mempengaruhi berbagai teknologi lainnya menuju dimensi baru dalam berinteraksi. Hal ini juga terjadi dalam surveillance technology (CCTV). Kemajuan dan penggunaan network teknologi (Intranet and Internet) secara meluas membuat teknologi ini menjadi alternatif medium transmisi yang efektif. Artikel ini mencoba membantu pembaca untuk memahami penggunaan teknologi network (Intranet / Internet) untuk diintegrasikan dengan surveillance technology.

Tradisional Analog CCTV Teknologi menggunakan Coaxial Cable sebagai medium untuk mengirimkan streaming video menuju alat perekam ataupun monitor. Untuk mengintegrasikan teknologi network dengan CCTV Teknologi maka analog data yang dikirim oleh CCTV harus dikonversi menjadi data digital. Proses dari analog menjadi digital ini dapat dilakukan pada berbagai fase / tahap seperti terlihat pada diagram di bawah ini.

CCTV Internet Intranet Diagram

CCTV Internet Intranet Diagram

Seperti terlihat pada diagram di atas streaming video yang dikirim melalui network protocol (TCP/IP) harus dalam bentuk data digital. Pada Analog Camera proses konversi ini dilakukan secara external oleh Video Server sedangkan pada IP Camera proses ini dilakukan secara internal didalam kamera. Setelah dikonversi menjadi data digital, data ini perlu di format kedalam paket data yang sesuai dengan standard network protocol (TCP/IP). Selanjutnya, data yang dikirim melalui protokol TCP/IP dapat diakses melalui Intranet ataupun Internet. Setiap komputer (PC, PDA, Laptop) yang terhubung ke dalam jaringan Intranet / Internet akan dapat mengakses video yang dihasilkan oleh CCTV Camera.

Video yang diakses melalui network dapat dilakukan dengan 2 cara:

  1. Download: data video dikonversi menjadi digital dan disimpan dalam bentuk file. Proses download digunakan bila kita ingin melihat hasil rekaman diwaktu lampau.
  2. Streaming: data video yang dihasilkan oleh CCTV Camera langsung dikonversi dan dikirim melalui jaringan network. Proses ini memungkinkan kita memonitor kamera secara real time. Karena data video memiliki ukuran yang sangat besar, proses streaming ini memerlukan bandwith network yang sangat besar agar dapat menampilkan video secara real time.

Karena besarnya ukuran video yang harus dikirim melalui infrastruktur network baik dengan cara download ataupun streaming, maka data yang dikirim ini harus dapat dikompresi terlebih dahulu sedemikan rupa sehingga cukup kecil untuk dapat dikirim melalui kapasitas infrastruktur yang ada dan dengan kualitas yang cukup baik untuk security monitoring.

Setiap kamera yang dapat berkomunikasi melalui protokol network (TCP/IP) telah dapat diakses melalui Intranet maupun Internet. Akan tetapi untuk dapat mengakses kamera melalui Internet, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pada jaringan internet yang terhubung dengan kamera:

  1. Kapabilitas Jaringan Internet: jaringan internet yang dapat digunakan harus dapat menerima incoming request, hal ini perlu diperhatikan karena banyak Internet Service Provider memblokir incoming request sehingga tidak memungkinkan kamera diakses dari jaringan internet.
  2. Kapasitas Jaringan Internet: mengirimkan data video melalui jaringan internet memerlukan bandwith yang besar. Sebagai gambaran, untuk mengirimkan video berukuran 352×288, 15 frames/second, akan memerlukan dedicated bandwith 173 Kbps. Jumlah bandwith tentunya akan semakin besar bila jumlah kamera semakin banyak dan kualias yang diharapkan semakin baik.
  3. Keamanan Jaringan Internet: karena akses jaringan internet terbuka untuk publik, maka faktor keamanan menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Setiap kamera yang terhubung ke Internet harus terproteksi dibelakang firewall sehingga tidak mudah untuk dideteksi dan diakses secara ilegal. Permasalahan yang kerap muncul adalah untuk dapat mengirimkan data video melalui download ataupun streaming memerlukan akses port khusus, dimana akses port ini tentunya harus dibuka. Hal ini tentunya menambah resiko keamanan. Untuk meminimalisir resiko keamanan yang mungkin terjadi, akses terhadap open port ini harus dibatasi, dan kalau mungkin akses dari internet terhadap kamera ini juga dibatasi pada domain / ip tertentu. Untuk meningkatkan keamanan data video yang dikirim melalui internet, data yang dikirim dapat di-enkrip terlebih dahulu.

Menghubungkan CCTV Camera ke jaringan Intranet / Internet memungkinkan infrastrutur keamanan yang lebih terpadu dengan infrastruktur komunikasi lainnya. Dengan terhubung ke jaringan network, akses terhadap CCTV Camera juga akan menjadi lebih fleksibel dan luas. Akan tetapi, kemudahan ini juga harus diikuti dengan penerapan standar kemanan yang lebih baik untuk mencegah ilegal akses ataupun bocornya informasi.

Pertanyaan yang sering menjadi perhatian orang yang akan membeli sebuah DVR System adalah berapa lama / berapa banyak DVR akan dapat menyimpan video yang ditangkap oleh CCTV Camera. Banyak pula orang yang beranggapan bahwa kualitas DVR yang akan menentukan kapasitas yang dimiliki oleh DVR System. Artikel ini akan mencoba menjelaskan faktor apa sajakah yang menentukan kapasitas penyimpanan pada sebuah DVR System, bagaimana faktor – faktor ini mempengaruhi kapasitas penyimpanan pada DVR. DVR System yang dimaksud pada artikel ini dibatasi hanya pada Digital DVR

Sebelum memahami apa saja yang menentukan kapasitas pada sebuah DVR, perlu dipahami terlebih dahulu apakah sebenarnya DVR. DVR digunakan untuk menyimpan data video yang ditangkap oleh CCTV Camera. Pada Digital DVR data yang disimpan harus dikonversi terlebih dahulu menjadi data digital. Proses konversi umumnya dilakukan sendiri oleh DVR System. Jadi ukuran data digital hasil konversi ini yang akan menentukan seberapa cepat kapasitas DVR akan terisi penuh.

Ukuran data digital pada DVR System ditentukan oleh beberapa faktor penting:

  • Jumlah Kamera: semakin banyak jumlah CCTV Kamera, maka akan semakin banyak data yang ditangkap dan dikonversi menjadi data digital.
  • Jumlah Frame per Second (fps) / Resolusi: video digital merupakan kumpulan frame yang dirangkai secara sequential. Hal ini menyebabkan semakin tinggi frame per second, maka video digital akan tampak semakin halus, dan tentunya juga akan membuat ukuran data akan semakin besar.
  • Ukuran Frame: semakin besar ukuran frame maka akan semakin besar pula ukuran data video. Terdapat beberapa ukuran frame yang umum digunakan pada DVR System, seperti: 352×288 PAL (CIF / Common Intermediate Format), 704×576 PAL (D1 / Full Frame).
  • Kualitas Video: data analog yang dikonversi menjadi data digital menggunakan standard format video. Standard format ini akan menentukan seberapa tepat video digital merepresentasikan kondisi aktual. Video yang memiliki kualitas baik umumnya menyimpan informasi yang lebih detail dan tentunya ukuran yang lebih besar.
  • Lama Waktu Perekaman: semakin panjang waktu perekaman maka ukuran video akan semakin besar.

Berdasarkan faktor – faktor diatas, dengan asumsi 1 kamera, 1 frame per second, Full Frame (D1), Kualitas standard, 1 hari, ukuran data video secara empiris kurang lebih 330 MB. Bila menggunakan ukuran frame CIF, ukuran video menjadi 145 MB.

Berdasarkan satuan data di atas maka kita dapat melakukan kalkulasi ukuran data video pada sebuah CCTV system. Sebagai contoh, bila dalam sistem terdapat 4 kamera, video direkam 10 frame per second, full frame, kualitas standard, selama 30 hari, maka estimasi ukuran data video menjadi 4 x 10 x 30 x 330 MB = 396000 MB = 396 GB. Hal ini berarti, CCTV System harus memiliki kapasitas peyimpanan (hard disk) sekurang – kurangnya 396 GB untuk dapat menyimpan data sesuai asumsi di atas.

Suatu CCTV System terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan untuk membantu pemiliknya memantau kejadian secara real time ataupun melakukan play-back kejadian yang telah lampau. Untuk dapat mencapai fungsi secara optimum sebuah CCTV System umumnya terdiri dari beberapa komponen seperti:

  • CCTV Camera (Kamera Pemantau): alat yang yang ditempatkan pada lokasi yang akan dimonitor untuk menangkap gambar video. Gambar video yang dikirim bisa berbentuk analog ataupun digital.
  • Recorder (Alat Perekam): alat yang digunakan untuk merekam video yang dikirim oleh CCTV Camera. Perekaman dapat dilakukan secara analog ataupun digital.
  • Monitor: alat yang dipakai melihat gambar video secara real time ataupun video hasil rekaman. Monitoring dapat dilakukan secara lokal (pada area gedung) ataupun secara remote
  • CCTV Motorized Controller: alat ini digunakan untuk menggerakkan PTZ (Pan Tilt Zoom) motor yang terdapat pada CCTV Camera.

Dengan menggabungkan komponen – komponen di atas maka dapat dibuat sebuah CCTV System. Terdapat 2 macam konfigurasi CCTV System yang banyak digunakan pada saat ini:

  • Konfigurasi CCTV Camera Analog: pada konfigurasi ini gambar video yang dihasilkan oleh kamera berupa signal analog yang ditransmisikan melalui Coaxial Cable, video analog ini kemudian ditangkap oleh recorder dan di transformasi menjadi bentuk data digital sebelum disimpan ke dalam Hard Disk Digital Video Recorder dapat mengirimkan video digital ini melalui jaring network
Analog CCTV System Diagram

Analog CCTV System Diagram

  • Konfigurasi IP CCTV Camera (Network Camera): pada konfigurasi ini gambar video yang dihasilkan oleh network camera sudah berbentuk digital dan dikirim langsung ke jaringan network. Network Recorder yang terhubung ke jaringan network yang sama menerima video digital yang dikirim oleh CCTV Camera dan menyimpannya ke dalam Hard Disk. Komputer yang terhubung ke network dapat mengakses video langsung dari kamera ataupun mengakses hasil rekaman pada Network Recorder
IP CCTV (Network) System Diagram

IP CCTV (Network) System Diagram

Kedua konfigurasi di atas memiliki kelebihan dan kekurangan. Konfigurasi pertama yang menggunakan analog camera akan memerlukan infrastruktur kabel yang lebih banyak dan lebih mahal, gambar video yang disimpan juga mungkin sudah mengalami perubahan karena faktor jarak dan interferensi. Permasalahan ini tidak dialami bila menggunakan IP Camera karena data output sudah berbentuk digital dan hanya menggunakan satu kabel data (UTP Cat5). Akan tetapi biaya untuk IP Camera saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga Analog Camera, disamping itu IP Camera juga memerlukan infrastruktur network yang lebih baik untuk menunjang streaming data dari beberapa IP Camera secara bersamaan.

Sistem yang umum terdapat pada sebuah rumah konvensional adalah sistem penerangan (lighting system), sistem keamanan (security system), sistem pengatur temperatur dan ventilasi, sistem hiburan (entertainment system). Pada rumah konvensional masing – masing sistem ini berdiri sendiri. Masing – masing dikontrol secara terpisah baik dengan menggunakan keypad, remote control, saklar, dan lainnya. Untuk mendapatkan kondisi tertentu seringkali penghuni harus menyesuaikan beberapa sistem sekaligus, seperti menyesuaikan tingkat penerangan, temperatur, dan proteksi keamanan pada saat malam hari.

Home Automation (Smart Home System) adalah sistem yang digunakan untuk mengintegrasikan berbagai sistem yang umumnya terdapat dalam suatu rumah (bangunan). Dengan terintegrasinya berbagai sistem ini diharapkan dapat meningkatkan:

  • Kenyamanan: tingkat penerangan, suhu, kelembaban yang optimum
  • Keamanan: proteksi terhadap akses, alarm system, dan monitoring keadaan.
  • Kemudahan: mengontrol berbagai sistem dimanapun dan kapanpun.
  • Efisiensi: menggunakan resource/energi sesuai dengan kebutuhan.

Yang menjadi kendala utama dalam integrasi ini adalah bagaimana berbagai sistem yang sudah ada dalam satu bangunan dapat berkomunikasi satu dengan lainnya. Pada saat ini belum terdapat satu platform standar yang cukup dominan digunakan oleh vendor elektronik sebagai acuan. Berdasarkan medium komunikasinya, metoda integrasi yang digunakan saat ini dapat dibedakan menjadi:

  • Hard-Wired (Bus Sistem): menggunakan kabel untuk mengirimkan data komunikasi antara berbagai modul. Metoda ini memiliki kestabilan komunikasi yang baik, tetapi kurang tepat digunakan bila rumah/gedung sudah selesai dibangun.
  • Radio Frequency: menggunakan metoda wireless radio frequency untuk mengirimkan data. Metoda ini mudah diimplementasikan, tetapi sering kali terkendala dengan interferensi dan juga jangkauan
  • Power Line: menggunakan modulasi frekuensi listrik untuk mengirimkan data. Metoda ini juga relatif mudah diimplementasikan, tetapi sering terkendala oleh faktor noise pada aliran listrik, relatif lambat, dan rentan masalah oleh perintah yang bertabrakan (collision command).
  • Hybrid: menggabungkan beberapa metoda yang disebut diatas untuk dapat mengirimkan perintah yang lebih konsisten / stabil dan juga mudah diimplementasikan.

Faktor lainnya yang juga sangat penting dalam implementasi Home Automation System adalah user interface yang digunakan untuk mengakses / mengontrol sistem. User interface dapat dikelompokkan menjadi:

  • On site interface: user interface yang terdapat pada area rumah / bangunan, user interface ini bisa berupa keypad, touchscreen, remote control.
  • Off site interface: user interface yang memungkinkan pengguna mengontrol sistem pada saat tidak berada di sekitar rumah/bangunan, user interface ini bisa berupa web interface, phone escort system, sms interface, maupun email interface.

Kedua faktor diatas (integrasi dan user interface)  adalah faktor yang sangat penting dalam memilih suatu home automation system. Sebuah home (building) automation yang baik harus dapat melakukan integrasi dengan berbagai sistem secara konsisten dan stabil. Sistem juga harus mudah diakses, dimonitor, dan dikontrol secara lokal maupun secara remote.

Electric Lock secara sederhana adalah kunci yang digerakan oleh arus listrik. Umumnya Electric Lock yang ada saat ini digerakkan oleh listrik 12 VDC atau 24 VAC.

Electric Lock merupakan kebutuhan bangunan modern yang memungkinkan pengelolaan access control secara lebih terpadu, lebih aman, dan lebih efisien.  Electric Lock memungkinkan pengelola bangunan untuk mengunci dan membuka pintu tanpa harus menggunakan kunci (Keyless Access). Untuk mengatur mekanisme kerja dari electric lock ini maka dibutuhkan perangkat yang lebih dikenal dengan Door Access Control System. Dimana Electrick Locksendiri adalah salah satu komponen dari suatu access control system

Jenis Electric Lock berdasarkan tipe proteksi:

  • Fail Safe: Electric Lock yang memberikan proteksi jika terdapat aliran listrik. Lock jenis ini umumnya digunakan pada ruangan yang memiliki intensitas kegiatan / aktifitas manusia cukup tinggi. Dengan menggunakan lock ini, pintu akan otomatis terbuka pada saat emergency (aliran listrik padam), sehingga orang yang berada di dalam ruangan dapat keluar pada saat terjadi emergency seperti kebakaran.
  • Fail Secure: Electric Lock yang memberikan proteksi jika terjadi pemutusan aliran listrik. Lock jenis ini umumnya digunakan pada ruangan yang memiliki tingkat aktifitas manusia yang rendah dan diisi oleh barang – barang yang sangat berharga. Dengan menggunakan lock ini, pintu akan otomatis tertutup pada saat emergency (aliran listrik padam). Lock jenis ini umumnya digunakan pada tempat seperti gudang dan lemari penyimpanan.

Jenis Electric Lock berdasarkan mekanisme penguncian:

  • Electromagnetic Lock (EMLOCK): Electric Lock yang memberikan proteksi melalui kekuatan magnet. Kekuatan magnet disesuaikan dengan kebutuhan tingkat proteksi dan beban pintu. Electric Lock jenis ini dapat digunakan untuk berbagai jenis pintu.
  • Electric Door Strike: Electric Lock yang memberikan proteksi dengan menggunakan latch (lidah kunci) danelectric face plate. Electric Lock jenis ini umumnya digunakan untuk pintu yang memiliki frame cukup tebal seperti pintu kayu. Electric Door Strike ini harus ditanam pada frame pintu menggantikan fungsi lubang lidah pintu.
  • Electric Drop Bolt: Electric Lock yang memberikan proteksi dengan menggunakan solenoid yang digerakkan secara mekanis. Electric Lock jenis ini umumnya digunakan untuk untuk pintu kaca dan besi

Mesin Absensi Sidik Jari (Fingerprint Time Attendance System) merupakan perlengkapan kantor yang sudah jamak kita temukan saat ini. Mesin Absensi Sidik Jari adalah system identifikasi biometric yang awalnya lebih banyak digunakan untuk mengontrol hak akses ke ruang / area tertentu (Access Control System).

Identifikasi biometric sendiri dapat dilakukan dengan berbagai metoda diantaranya dengan Pengenalan Sidik Jari, Retina, Iris, Wajah, maupun Suara. Setiap metoda memiliki kelebihan dan kekurangan. Pengenalan Sidik Jari digunakan secara luas saat ini dikarenakan sistem ini cukup akurat mengidentifikasi seseorang, proses cepat dan sederhana, serta dapat diproduksi dengan harga relatif murah dibandingkan dengan metoda lainnya. Sistem identifikasi sidik jari yang baik umumnya dapat mengidentifikasi hingga 98% sidik jari manusia.

Dalam memilih sistem identifikasi sidik jari , salah satu komponen terpenting yang harus diperhatikan adalah Scanning Sensor yang digunakan untuk membaca profil sidik jari. Terdapat 2 jenis sensor yaitu Optical Sensor dan Silicon Sensor. Optical sensor secara umum memiliki kemampuan identifikasi lebih baik dan lebih tahan lama dibandingkan dengan silicon sensor. Akan tetapi Optical Sensor akan memiliki ukuran relatif lebih besar dibandingkan dengan Silicon Sensor

Disamping sensor, terdapat beberapa fitur yang perlu diperhatikan dalam memilih Mesin Absensi Sidik Jari seperti Capacity, Performance, Supported Protocol, Integration, Reporting Software dan Database System. Yang masing – masing akan dijelaskan berikut ini.

  • Hardware Capacity (Kapasitas) meliputi jumlah maximum user, jumlah maximum fingerprint template dan jumlah log buffer yang dapat disimpan. Maximum user adalah jumlah maksimum pengguna sistem ini, setiap user dapat mendaftarkan satu atau lebih sidik jarinya. Jumlah maximum sidik jari yang dapat disimpan ditentukan oleh maximum fingerprint template. Sedangkan jumlah log buffer akan menentukan jumlah maksimum transaksi yang dapat disimpan dalam mesin ini sebelum di-download ke dalam database.
  • Hardware Performance meliputi response time dalam melakukan identifikasi. Fingerprint Sistem yang baik dapat melakukan identifikasi kurang dari 1 detik.
  • Supported Protocol untuk mesin absensi sidik jari akan menentukan kemampuan pengiriman data dari dan ke mesin. Pada umumnya mesin absensi sidik jari men-support satu atau lebih protocol berikut: RS232, RS485, TCP/IP, Wiegand.
  • Integration adalah kemampuan mesin absensi sidik jari untuk dapat diintegrasikan dengan sistem lain seperti dengan access control system. Secara umum terdapat 2 jenis mesin absensi sidik jari berdasarkan kemampuan integrasinya:
  • Reporting Software juga merupakan unsur yang sangat penting untuk diperhatikan. Beberapa Mesin Absensi Sidik Jari telah dilengkapi dengan software reporting yang cukup lengkap seperti laporan rekap harian dan bulanan. Software reporting ini dapat berupa aplikasi desktop yang dapat dijalankan pada local computer. Beberapa Mesin Absensi Sidik Jari ada pula yang dilengkapi Aplikasi Reporting Berbasis Web yang memungkinkan pengguna mengakses software lewat network local maupun internet.
  • Database System adalah backend system yang menyimpan seluruh data pengguna dan juga log transaksi. Database system yang baik dapat memberikan performa yang prima seiring dengan bertambahnya data pengguna. Mesin Absensi Sidik Jari yang ada di pasaran umumnya menggunakan database: MS Access atau MS SQL Server.

Memilih Camera (Kamera) CCTV sering kali membingungkan bagi orang yang awam akan produk ini. Hal ini disebabkan karena produk CCTV yang beredar di pasaran sangat bervariasi dalam merk, jenis, harga, teknologi, dan kualitas. Kurangnya standarisasi dalam fitur / teknologi yang terdapat dalam Camera CCTV juga menyulitkan calon pembeli untuk membandingkan produk satu dengan lainnya. Artikel ini mencoba memaparkan secara sekilas aspek – aspek yang membedakan kamera satu dengan lainnya sehingga dapat digunakan sebagai referensi awal dalam pemilihan Camera CCTV.

Camera (Kamera) CCTV dapat dibedakan berdasarkan jenis output, lokasi penempatan, waktu penggunaan, mekanisme control, dan resolusi. Mengacu pada jenis output, Camera (Kamera) CCTV dapat digolongkan menjadi Analog dan Digital.

  • Camera CCTV Analog yaitu kamera yang mengirimkan continuous streaming video melalui Kabel Coaxial
  • Camera CCTV Digital yaitu kamera yang  mengirimkan discrete streaming video melalui Kabel UTP. Kamera CCTV Digital umumnya dilengkapi dengan IP Address sehingga sering pula dikenal sebagai IP (Network) Camera. Dengan adanya IP kamera bisa dapat langsung diakses melalui jaringan LAN/WAN tanpa harus menggunakan tambahan converter.

Berdasarkan lokasi penempatan, Camera CCTV dapat dibedakan menjadi indoor dan outdoor camera.

  • Indoor Camera adalah kamera yang ditempatkan di dalam gedung, umumnya berupa Dome (Ceiling) Camera,Standard Box Camera.
  • Outdoor camera adalah kamera yang ditempatkan di luar gedung dan memiliki casing yang dapat melindungi kamera terhadap hujan, debu, maupun temperatur yang extreme. Umumnya berupa Bullets Camera yang telah dilengkapi dengan Infra Red Led (Infra Red Camera). Disamping outdoor camera, standard box camera juga sering kali ditempatkan di luar dengan menggunakan tambahan Outdoor Housing.

Waktu Penggunaan merupakan faktor yang penting diperhatikan saat memilih Camera CCTV. Kemampuan Camera CCTV untuk dapat menangkap gambar pada pencahayaan minimum dinyatakan sebagai minimum lux, yaitu minimum satuan cahaya (lux) yang diperlukan Camera CCTV agar dapat menangkap obyek. Secara umum terdapat 2 jenis camera cctv berdasarkan waktu penggunaan (minimum lux):

  • Standard Day Camera CCTV yaitu kamera yang digunakan untuk memonitor ruang yang memiliki tingkat penerangan cukup baik secara konsisten (di atas 0.5 lux)
  • Day-Night Camera CCTV yaitu kamera yang digunakan untuk memonitor ruang yang memiliki tingkat penerangan kurang (di bawah 0.5 lux terus menerus ataupun sebagian waktu)

Mekanisme control pada kamera cctv memungkinkan pengguna menggerakkan sudut pandang kamera secara vertical, horizontal, maupun mengatur jarak pandang (focus). Berdasarkan mekanisme kontrol ini kamera dapat dibagi menjadi:

  • Motorized Camera CCTV yaitu kamera yang dilengkapi dengan motor untuk menggerakan sudut pandang ataupun focus secara remote. Motorized camera meliputi beberapa jenis camera seperti: zoom camera dan speed dome camera
  • Fixed Camera CCTV yaitu kamera yang sudut pandang dan fokusnya harus disetting secara manual pada saat instalasi.

Faktor lain yang juga sangat penting dalam menentukan camera cctv adalah resolusi kamera. Resolusi ini dinyatakan dalam jumlah TV Lines (TVL), semakin besar jumlah TVL maka akan semakin tinggi resolusi kamera yang bersangkutan. Kamera yang memiliki resolusi yang semakin tinggi akan menghasilkan gambar yang semakin tajam. Namun kamera beresolusi tinggi juga membutuhkan monitor dengan resolusi tinggi untuk dapat menampilkan gambar yang ditangkap oleh kamera secara utuh. Berdasarkan resolusinya kamera dapat dibedakan menjadi 3 jenis:

  • High Resolution: kamera yang memiliki resolusi di atas 480 TVL
  • Standard Resolution: kamera yang memiliki resolusi 380 – 480 TVL
  • Low Resolution: kamera yang memiliki resolusi dibawah 380 TVL

Semua faktor tersebut di atas akan mempengaruhi jenis cctv secara fungsional, di samping faktor di atas terdapat pula faktor lain yang juga sangat mempengaruhi kualitas Camera CCTV seperti Jenis Images Sensor dan Jenis Arsitektur Chipset. Jenis Image Sensor yang banyak digunakan saat ini adalah CCD dan CMOS, sedangkan jenis arsitektur chipset yang banyak digunakan pada Camera CCTV adalah chipset Sony, Sharp, dan Panasonic.